Hati yang hidup pernah jadi status yg saya pasang di salah satu social network. Terinspirasi petuah seseorang yang menohok dan mengingatkan tentang perjalanan hati saya dalam memaknai hidup.
Hidup lawan dari mati, dan persepsi setiap orang tentang mati berbeda-beda. Ada yang merasa mati ketika dirundung kegagalan, kalah dari persaingan, ludes harta benda akibat musibah, bahkan ketika kehilangan kekasih yang membuat hidup menjadi tak berarti.
Mati bukan hanya ketika seseorang telah mengembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanyalah mati biologis. Kematian yang masih bermanfaat karena bisa menjadi pelajaran bagi yang hidup. Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup.
Yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup (red: Hati yang Mati). Ia menjadikan manusia kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, tidak perduli dengan sekitar, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.
Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia demikian. Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain. Bagaimana dg yang merusak dan menebar kejahatan di muka bumi? Sungguh sangat memprihatinkan.
Mengutip dari sebuah artikel yang dimuat oleh salah satu media online bahwasanya ada tiga hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati.
Pertama, bila shalat ditinggalkan, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS al-Ankabut [29]: 45 dan QS Maryam [19]: 59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.
Kedua, meninggalkan sedekah. Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
Ketiga, meninggalkan zikrullah adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS Ar-Ra’d [13]: 28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.
Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki Hati yang Hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.
Dalam moment Tahun baru Hijriyah 1432H ini, memuhasabah diri untuk menjadi manusia sebenar-benarnya yang jauh jauh jauh lebih baik adalah resolusi yang patut diprioritaskan dalam hidup. Semoga Allah meridhoi niat baik qta, usaha qta dan tawakkal qta.
HomeSwitHome, 8 Desember 2010 11:13


terimakasih telah setidakny mengingatkanku jugaa
mari senantiasa memperbaiki diri
Kembalikasih dik, Alhamdulillah kalau tulisan ini mampu melecut hati kita untuk berusaha menjadi insan dengan perilaku yang benar dan bukan semata-mata baik. Semoga Allah selalu melindungi kita semua